LHOKSUKON – Jeritan putus asa kini bergema di penjuru Aceh Utara. Delapan bulan sudah berlalu sejak banjir bandang meluluhlantakkan rumah-rumah mereka, menyisakan puing-puing keputusasaan. Ribuan warga terdampak kini hidup dalam penderitaan mendalam, terabaikan dan terlupakan oleh pemerintah yang seharusnya melindungi mereka.
Bayangkan, delapan bulan! Jangankan hidup layak, untuk menyambung hidup sehari-hari saja mereka harus berjuang mati-matian. Jaminan Hidup (Jadup) yang dijanjikan Kemensos, sebuah asa kecil di tengah badai, kini terasa bagai mimpi di siang bolong. Sementara birokrasi berbelit-belit, anak-anak kelaparan, lansia jatuh sakit, dan penderitaan semakin menggunung.
“Kami sudah tidak punya apa-apa lagi! Semua harta benda kami sirna ditelan banjir. Ladang hancur, sawah puso, tidak ada pekerjaan. Kami harus makan apa?!” jerit masyarakat yang kehilangan tempat tinggalnya. Air matanya tak henti mengalir saat mengenang perjuangan pahitnya bertahan hidup.
Tgk Muhazir, seorang tokoh masyarakat Aceh Utara yang selama ini menjadi garda terdepan menyuarakan penderitaan warganya, juga menyampaikan kekecewaan yang mendalam. “Kondisi di lapangan sangat memprihatinkan,” ujarnya kepada awak media pada Kamis (23/07/2024).
“Bayangkan, delapan bulan! Ini bukan waktu yang singkat bagi mereka yang kehilangan segalanya. Masyarakat sekarang benar-benar sudah di ambang putus asa. Jangankan untuk membangun kembali rumah yang hancur, untuk makan sehari-hari pun mereka harus bersusah payah. Janji-janji pemerintah sepertinya hanya manis di bibir saja,” tambahnya dengan nada kecewa.
Tgk Muhazir menegaskan bahwa bantuan yang paling krusial saat ini adalah Jaminan Hidup (Jadup) yang dijanjikan oleh pemerintah.
“Jadup ini sangat mendesak! Ini adalah satu-satunya harapan mereka untuk bisa bertahan hidup. Jika terus ditunda, kami khawatir penderitaan mereka akan semakin parah. Bahkan, bisa-bisa terjadi kelaparan masal!” pintanya dengan sungguh-sungguh.
Kekecewaan masyarakat pun semakin memuncak dengan lambannya respons dari pemerintah pusat Jakarta seperti BNPB, Kemensos. “Pemerintah sepertinya tidak peka dengan penderitaan masyarakat Aceh Utara. Apakah mereka baru akan bertindak jika sudah ada korban jiwa?” tandasnya.
Tgk Muhazir juga mendesak pemerintah pusat untuk segera turun tangan dan tidak hanya berdiam diri melihat penderitaan warganya. “Masyarakat Aceh Utara adalah bagian dari Indonesia. Tolong jangan abaikan mereka. Segera salurkan bantuan yang telah dijanjikan sebelum terlambat!” seru Tgk Muhazir dengan penuh harap.
Suara-suara putus asa dari Aceh Utara harus didengar. Pemerintah tidak boleh berdiam diri di atas penderitaan warganya. Jaminan Hidup (Jadup) bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan dasar yang harus segera dipenuhi. Jangan sampai birokrasi mengalahkan rasa kemanusiaan.
ACEH UTARA — Kepala SMAN 1 Matangkuli, Aceh Utara Zulfikar, S.Pd., M.Pd., menerbitkan sebuah karya…
LHOKSEUMAWE – Wakapolres Lhokseumawe Kompol Iswahyudi, S.H., CPHR., CBA memimpin apel pagi personel Polres Lhokseumawe…
ACEH UTARA – Kapolres Lhokseumawe AKBP Dr. Ahzan, S.H., S.I.K., M.S.M., M.H., menghadiri upacara peringatan…
ACEH UTARA – Nuansa budaya dan sejarah Kerajaan Samudera Pasai begitu terasa dalam rangkaian peringatan…
ACEH UTARA – Kapolres Lhokseumawe AKBP Dr. Ahzan, S.H., S.I.K., M.S.M., M.H., menghadiri Upacara peringatan…
LHOKSEUMAWE – Kapolres Lhokseumawe AKBP Dr. Ahzan, S.H., S.I.K., M.S.M., M.H., menyambut kunjungan silaturahmi Manajer…